Panduan Obat bagi Ibu Menyusui

Oleh: dr. Ika Fitriana

Rata-rata obat yang dikonsumsi ibu menyusui, hanya 10% yang diterima bayi melalui ASI. Saat kehamilan, janin bahkan menerima 5-10 kali lipat kadar obat dibandingkan melalui ASI. Sebenarnya tak perlu khawatir bila ibu menyusui terserang sakit karena hanya sedikit obat yang perlu diwaspadai efeknya ke bayi.

Faktor yang meningkatkan penyerapan obat lewat ASI

  1. Bayi yang minum banyak ASI tentunya memiliki risiko menyerap lebih banyak obat dibandingkan bayi yang minum sedikit. Hal ini juga dipengaruhi oleh berat badan dan usia bayi.
  2. Penyerapan ke bayi lebih rendah pada obat yang memiliki waktu paruh pendek dan obat yang berikatan kuat dengan protein.
  3. Obat yang dikonsumsi dalam 3-4 hari pascapersalinan hanya memberi efek sangat rendah pada bayi karena jumlah produksi susu juga masih sedikit.

Biasanya, obat yang aman untuk bayi dianggap juga aman dikonsumsi ibu menyusui.

Keamanan obat

WHO membagi kategori keamanan obat untuk menyusui untuk memudahkan pemilihan obat. Termasuk dalam kategori ini adalah obat herbal ataupun zat kimia.

  1. Obat yang dapat diberikan saat menyusui. Obat dalam golongan ini dikategorikan aman dikonsumsi ibu karena secara teori atau bukti tidak memiliki efek negatif pada bayi.
  2. Obat dapat diberikan tetapi perlu pemantauan efek sampingnya pada bayi. Obat dalam golongan ini secara teori dapat menyebabkan efek samping pada bayi tetapi belum ada bukti yang menguatkan, atau hanya sedikit sekali memberikan efek samping. Obat dapat dihentikan penggunaannya atau dicari alternatif pengganti.
  3. Hindari jika memungkinkan, pantau efek sampingnya pada bayi. Obat dalam kategori ini telah dilaporkan menyebabkan efek samping yang cukup serius. Penggunaan obat ini hanya jika obat ini benar-benar dibutuhkan dan tak ada alternatif lain.
  4. Hindari jika memungkinkan, dapat menghambat proses menyusui. Obat golongan ini dapat mengurangi produksi ASI dan perlu dihindari jika memungkinkan. Bila diberikan dalam jangka waktu pendek, ibu masih tetap dapat memberikan ASI dan dapat mengurangi risiko berkurangnya ASI dengan merangsang bayi lebih sering lagi menyusui.
  5. Hindari obat ini. Dalam golongan ini, terdapat obat-obatan yang dapat membahayakan bayi. Bila memang penggunaan obat teramat perlu, sebaiknya ASI tidak diberikan pada bayi hingga terapi selesai. Beberapa obat golongan antikanker atau obat dengan radioaktif dapat berbahaya untuk bayi.
Obat-obatan yang harus dihindari seperti golongan amfetamin, kemoterapi (obat kanker), obat migrain (ergotamin), dan statin (obat kolesterol). Beberapa obat psikotropika (obat kejiwaan) sudah diperbolehkan untuk diberikan. Untuk informasi lebih lanjut tentang obat-obat yang boleh diberikan pada ibu hamil, dapat dicari dalam website terpercaya seperti American Academy of Pedriatics.

Obat dan produksi ASI

Beberapa obat yang termasuk mengurangi jumlah ASI seperti metergin (obat penekan perdarahan) atau kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen. Obat yang memberi efek banyak mengeluarkan urin (misalnya diuretik seperti furosemid) juga dapat mengurangi ASI. Sebaliknya, obat mual seperti metoklopramid atau cimetidin yang merupakan obat penyakit lambung dapat merangsang ASI.

Berikut yang perlu Anda tanyakan kembali sebelum mengonsumsi obat saat menyusui:

  1. Apakah terapi obat memang diperlukan? Jika memang sangat dibutuhkan, tanyakan pada dokter, obat apa yang paling aman di antara semua obat yang dapat diberikan sesuai indikasinya. Atau Anda dapat mencari informasi dalam situs perpustakaan online terbesar di AS, National Library of Medicine yaitu LactMed di http://%20toxnet.nlm.nih.gov/cgi-bin/sis/%20htmlgen?LACT  
  2. Jika obat yang dibutuhkan berisiko berpengaruh terhadap si kecil, pertimbangkan konsentrasi obat dalam darah saat proses menyusui. Salah satu cara mencegahnya adalah meminum obat sesegera setelah memberi ASI pada bayi, atau persis sebelum bayi tidur panjang (misalnya sebelum bayi tidur malam).
Artikel ini disadur dari majalah Anakku

“Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter menu Mommychi”
kembali ke atas