Sulit Memperoleh Anak Kedua

Dr. Med Damar Prasmusinto, Sp.OG(K)


Infertilitas sekunder adalah hal yang paling sering dialami pasangan yang sulit memiliki anak kedua. Mengetahui faktor-faktor penyebabnya dapat membantu pasangan untuk mengatasinya. 

Infertilitas sekunder adalah istilah untuk menggambarkan kesulitan hamil setelah memiliki anak pertama, tanpa kontrasepsi dengan hubungan intim teratur selama satu tahun. Dengan catatan, anak pertama merupakan kehamilan alami tanpa bantuan (bayi tabung ataupun obat-obatan penyubur).

Dari ayah atau ibu

Sama halnya dengan infertilitas primer, infertilitas sekunder disumbang oleh pihak ayah, pihak ibu atau bahkan keduanya. Sayangnya infertilitas sekunder kurang mendapat perhatian (tidak seperti infertilitas primer) karena dianggap sudah ada anak pertama. Kekhawatiran disebabkan oleh ketidakmampuan menghadirkan adik bagi kakak yang sudah lahir. Penyebabnya pun bisa jadi berbeda dengan infertilitas primer. Simak penjelasan berikut :

  • Faktor ibu

    Salah satu penyebab tersering adalah faktor usia ibu. Kebanyakan pasangan awalnya menganggap tak serius perihal memberikan adik untuk anak pertama hingga cenderung lambat mencari pengobatan. Selain itu, seiring pertambahan usia, fungsi reproduksi wanita makin menurun baik kualitas ataupun kuantitas bisa menyebabkan keguguran atau kegagalan meningkat. Faktor penyakit juga bisa mempengaruhi kesuburan, hal lain juga bisa disebabkan malnutrisi atau infeksi kronis.

  • Faktor ayah

    Sama halnya seperti wanita, laki-laki pun dapat mengalami perubahan kualitas dan kuantitas sperma. Salah satunya bisa disebabkan obat-obatan suplementasi hormon misalnya testosteron atau kemoterapi untuk pengobatan kanker. Penyakit bisa juga mempengaruhi kehidupan seksual seperti hipertensi lama atau diabetes melitus yang bisa menyebabkan gangguan vascular alat reproduksi sehingga terjadi disfungsi ereksi.

  • Faktor gaya hidup

    Ibu mungkin saja tak lagi selangsing saat sebelum hamil anak pertama. Dan ternyata kegemukan menyumbang terjadinya infertilitas juga. Kelebihan berat badan menyebabkan peningkatan produksi hormon testosteronepada wanita yang akhirnya menekan pengeluaran sel telur. Sindrom metabolik (gangguan kolesterol, hipertensi, kegemukan, gula darah yang tinggi) juga berhubungan dengan sindrom polikistik ovarium yang dapat menyebabkan infertilitas. Lagi-lagi gaya hidup yang kurang gerak (sedentary lifestyle), pola makan yang belebih, kebiasaan merokok bisa berhubungan dengan gangguan kesuburan.

    Terapi obat hingga inseminasi buatan

    Dalam hal ini, tak ada bedanya dengan infertilitas primer, terapi dimulai dengan mengetahui masing-masing faktor risiko dari pihak ayah dan ibu dan mengobati penyebabnya satu persatu. Obat-obatan penyubur dapat digunakan untuk meningkatkan telur yang dapat dibuahi, sampai upaya inseminasi intrauterine (dalam rahim) atau fertilisasi in vitro (pembuahan di luar rahim). 

    Namun yang terpenting dari masalah fertilitas ini adalah komunikasi yang terbuka antar pasangan, serta antara pasangan dan dokter. Selain itu, disiplin dan kesabaran juga amat dibutuhkan agar proses pembuahan dapat berjalan dengan lancar.

Artikel ini disadur dari majalah Anakku

“Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter menu Mommychi”


kembali ke atas