Nutrisi Otak untuk Tumbuh Cerdas

Oleh: Dr. Endang D. Tatar, Sp.A(K), MPH

Divisi Nutrisi & Metabolik RS Moewardi Solo 

Pada usia kehamilan 24 minggu hingga lahir, otak berkembang sangat pesat dan memerlukan dukungan faktor pertumbuhan dan nutrisi. Adanya kekurangan pada fase ini menyebabkan proses perkembangan saraf otak terhambat. Untungnya pada masa ini, sel saraf masih fleksibel dan kerusakan masih dapat dihindari dengan nutrisi yang tepat.

Mari kita berkenalan dengan istilah nutrigenomik, yaitu nutrisi yang dibutuhkan hingga tingkat gen. Termasuk gen yang menentukan kecerdasan otak anak. Semua nutrisi penting untuk tumbuh kembang sel saraf, tetapi ada beberapa yang efeknya lebih besar terutama fase janin dan baru lahir. Berikut nutrisi yang penting pada fase perkembangan otak. 

Malnutrisi protein energi

Kekurangan protein dan energi pada usia dini dapat menurunkan kualitas rantai gen dan mengganggu profil asam lemak. Hal ini menyebabkan jumlah sel saraf dan sintesis protein di otak berkurang, serta selubung saraf kurang terbentuk. Akibatnya, ukuran otak bayi pun dapat terganggu.

Pasca persalinan, malnutrisi juga sering terjadi pada bayi prematur yang sakit dan tak mampu mendapat nutrisi yang cukup akibat sakitnya. Bayi yang lahir dengan BB kurang meski lama kehamilan normal juga memiliki risiko yang sama. Tip bagi ibu:

  • Menjaga kesehatan sejak awal kehamilan mencegah terjadinya komplikasi seperti keracunan (eklampsia), tekanan darah tinggi, dan infeksi. Hal ini juga dapat mengurangi risiko bayi lahir kurang gizi atau prematur.

  • Konsumsi kalori dan protein yang cukup selama masa kehamilan untuk mengurangi risiko bayi kurang gizi.

    Zat besi

    Zat besi sangat dibutuhkan janin terutama pada trimester akhir kehamilan sebagai ‘bahan bakar’ pembentukan mielin (selubung saraf), produksi neurotransmitter dan metabolisme energi. 

    Tip buat ibu:

  • Ibu yang kekurangan zat besi dapat menyebabkan bayi ikut kekurangan. Konsumsi zat besi yang cukup bahkan sebelum hamil. Ibu hamil yang anemia mungkin memerlukan suplementasi zat besi.

  • Janin kurang gizi berisiko kekurangan zat besi. Periksa kesehatan sedini mungkin untuk mendeteksi diabetes mellitus (DM) dan hipertensi sebagai faktor penghambat pertumbuhan janin.

    Zat seng

    Zat seng atau zink merupakan kofaktor enzim yang membantu kerja asam nukleat dan protein. Kekurangan zat seng bisa mengurangi kualitas sel saraf dan menghambat keluarnya gen hormon pertumbuhan. Zat ini penting untuk perkembangan memori, motorik, saraf otonom dan perilaku anak.

    Tembaga

    Meski tidak diperlukan dalam jumlah besar, tembaga penting untuk metabolisme energi otak, metabolism dopamin, aktivitas antioksidan, kinerja zat besi pada otak janin dan neonatus. Untungnya, jarang ibu yang kekurangan zat ini, namun kekurangan zat seng pada binatang menunjukkan gangguan fungsi motorik, keseimbangan dan kordinasi.

    Asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang

    Dalam kelompok ini termasuk Omega 3 dan DHA (docosahexaenoic acid), telah banyak diteliti luas dan telah terbukti memperbaiki fungsi penglihatan, kecerdasan, perkembangan secara umum pada bayi-bayi prematur. Terutama DHA, kelompok asam lemak ini berperan besar dalam pembentukan struktur membran saraf, pembentukan selubung saraf dan kecepatan kerja aliran saraf. Efeknya pada bayi lahir cukup bulan memang tidak sekuat pada bayi prematur, namun suplementasi DHA tetap perlu diberikan pada bayi-bayi yang berisiko kekurangan, misalnya bayi yang tidak mendapat ASI dan mengalami gangguan fungsi hati atau bayi lahir prematur.

    Nutrisi lain

    Beberapa zat penting seperti yodium dan selenium ikut memengaruhi perkembangan otak dan perilaku, terutama melalui efeknya terhadap metabolisme hormon tiroid. Asam folat dan kolin juga memiliki efek terhadap metabolisme zat di otak, metilasi DNA, serta pembentukan neurotransmitter, begitu juga vitamin A dan B-6 yang diperlukan untuk kerja saraf. 

    Penuhilah zat-zat penting ini di masa kehamilan Anda.

Artikel ini disadur dari majalah Anakku

“Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter menu Mommychi”


kembali ke atas