Siap Menyongsong Kehamilan

Oleh: dr. Med Damar Prasmusinto, Sp.OG(K)














Ibu yang berencana hamil perlu mempersiapkan dirinya dengan baik. Secara umum persiapan menyongsong kehamilan itu meliputi persiapan fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi. Kehamilan secara umum dibagi atas tiga tahapan, yaitu trimester I, II, dan III. Setiap trimester mempunyai karakteristik sendiri.

Pentingnya nutrisi

Status nutrisi ibu paling memengaruhi perkembangan janin, karena tubuh perempuan menjadi lingkungan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Nutrisi tersebut harus seimbang baik dari sisi makro maupun mikronutriennya, organik dan non-organik. Dalam hal ini, setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Ibu dapat berkonsultasi pada dokter kandungan mengenai hal ini.

Status kesehatan ibu juga penting untuk diperiksa. Artinya, lakukanlah pemeriksaan untuk mengetahui apakah ibu mempunyai penyakit yang dapat membahayakan janin. Kadangkala penyakit tertentu hanya ringan gejalanya dan kita menyangka hanya ‘masuk angin’. Contohnya, banyak orang Indonesia yang tidak menyadari bahwa ia pengidap hepatitis B. Padahal penyakit ini termasuk penyakit yang berbahaya.

Perlakuan yang sama juga harus dilakukan pada pasangannya. Artinya, suami dan istri sama-sama harus bertanggung jawab atas kesehatan dirinya, agar mereka dapat memberikan sperma dan telur yang sehat, agar embrio yang dihasilkan sehat dan menjadi janin kemudian bayi yang sehat pula.

Apa yang harus dipersiapkan?

  • Pertahankan berat badan ideal. Berat badan kurang maupun berlebih berhubungan dengan ketidaksuburan (infertilitas). Laki-laki obesitas memiliki jumlah sperma yang lebih sedikit dan akan mengalami perubahan hormonal yang akan mengurangi kesuburannya.
  • Perempuan dengan kelebihan berat badan akan terganggu keteraturan siklus menstruasi dan produksi hormon ovariumnya. Wanita dengan kelebihan/kekurangan berat badan memiliki risiko komplikasi , demikian juga pada janin yang dikandungnya.
  • Memeriksakan diri untuk mengetahui ada/tidaknya penyakit kronis sehingga kemungkinan besar dapat segera ditangani dengan baik.
  • Hindari hal-hal yang membahayakan kesehatan tubuh, seperti rokok, minuman beralkohol, narkoba.
  • Konsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin C (mempermudah penyerapan zat besi), dan asam folat. Kekurangan asam folat saat hamil dapat menyebabkan janin mengalami kecacatan.

Selain itu, perlu juga dilakukan tes TORCH, istilah gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes. Keempat jenis penyakit infeksi ini, sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil.

Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapat membahayakan janin yang dikandungnya. Pada infeksi TORCH, gejala klinis yang ada sering sulit dibedakan dari penyakit lain karena tidak spesifik. Bahkan kadang gejala ini tidak muncul sehingga menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk membantu mengetahui infeksi TORCH agar dokter dapat memberikan penanganan atau terapi yang tepat.

1. Toxoplasmosis


Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi. Pada umumnya, infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesifik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi.

Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah. Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun).

Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dan ensefalitis.

Diagnosis Toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG.

Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama masa hamil (bila hasilnya negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester pertma, selanjutnya tiap trimeter), serta bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi Toxoplasma.

2. Rubella

Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda.

Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981).

Tanda tanda dan gejala infeksi Rubella sangat bervariasi untuk tiap individu, bahkan pada beberapa pasien tidak dikenali, terutama apabila ruam merah tidak tampak. Oleh Karena itu, diagnosis infeksi Rubella yang tepat perlu ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM.

Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi.
Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan risiko infeksi rubella bawaan.

3. Cytomegalovirus (CMV)

Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil.

Jika ibu hamil terinfeksi, maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, pengapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain.

Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.

4. Herpes Simpleks tipe-2

Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam di ganglion sistem syaraf otonom.
Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan lepuh pada kulit, tetapi hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak diketahui. Infeksi HSV II pada bayi yang baru lahir dapat berakibat fatal (Pada lebih dari 50 kasus).

Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan.

Artikel ini disadur dari majalah Anakku

kembali ke atas