Trik Berkomunikasi dengan Anak

Oleh: Irma Gustiana A., M.Psi, Psikolog

Alangkah menyenangkan ketika si kecil akrab dengan kita. Ia tak segan berbagi cerita tentang apa yang ia alami di sekolah, di tempat les dan dengan siapa ia bermain. Memang komunikasi dalam suatu keluarga merupakan hal yang penting. Dan hal ini sering luput dari perhatian sehingga kerap menimbulkan miskomunikasi antara anak dan orangtua.

 Begitu pentingnya nilai suatu komunikasi dalam sebuah keluarga hingga sekitar tahun 1954, Wilbur Schramm, seorang ahli komunikasi, memperkenalkan suatu model komunikasi interaksional. Model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat.

Hambatan dalam berkomunikasi

Dalam komunikasi sering kali orangtua bertindak kurang bijaksana karena kebanyakan pesan yang disampaikan masih bersifat instruksional. Hambatan yang sering muncul adalah:

·         Keterbatasan waktu

Pada anak dengan kedua orangtua bekerja, keterbatasan waktu kerap kali menghambat proses komunikasi  dua arah.

·         Orangtua tidak menanggapi keluhan anak

Kebanyakan proses komunikasi menjadi tidak efektif, karena orangtua kerap  menganggap hal-hal yang dikeluhkan anak bukanlah hal yang penting. Sikap ini membuat anak menjadi enggan bersikap terbuka pada orangtuanya.

·         Banyak bicara sedikit mendengar

Ada kalanya orangtua terlalu banyak bicara, memberikan perintah atau instruksi yang panjang, sehingga anak tidak paham esensi dari pesan yang disampaikan oleh orangtuanya.

·         Gadget dan TV

Di satu sisi, alat tersebut dapat memudahkan komunikasi, namun di sisi lain gadget dan alat elektronik lainnya dapat membuat keluarga menjadi kurang lekat, apalagi jika ada anggota keluarga menjadi kecanduan.

Manfaat berkomunikasi

Komunikasi anak-orangtua yang terjaga dengan baik akan memberikan banyak manfaat kepada anak seperti :

·         Menciptakan harmonisasi dalam keluarga. Komunikasi yang efektif akan mendukung saling pengertian, menghormati, saling menerima, saling menyanyangi dan menghargai antara anggota keluarga.

·         Komunikasi dua arah akan membentuk anak menjadi pribadi yang percaya diri, berani, aktif dan kreatif. Hal itu juga bisa memupuk kemampuan kepemimpinan sejak dini.

·         Komunikasi yang intens antara orangtua dan anak juga dapat meningkatkan kecerdasan anak. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dr. Glenn Doman dalam The Gentle Revolution. Pada anak yang lahir dengan IQ di bawah 70. Ketika orangtua rutin menyediakan waktu setiap hari untuk bermain, bicara, dan bercerita kepada mereka.  Maka ketika anak mencapai usia 2 atau 3 tahun mereka telah mampu berpikir dan berbuat seperti layaknya anak-anak dengan IQ normal.

Hal-hal yang perlu dihindari

Saat berbincang dengan anak, ada beberapa rambu yang perlu diperhatikan orangtua untuk membuat anak lebih bersifat terbuka dan merasa nyaman saat berkomunikasi.

·         Hindari terlalu banyak bicara. Dengarkan apa yang dikeluhakan dan informasi yang ingin disampaikan anak.

·         Jangan mengomel dan mengungkit kembali cerita yang kurang disukai anak.

·         Percayai cerita anak dan hindari memberikan komentar, “Ah, masa sih,” atau “Mama nggak percaya.” Sikap tersebut dapat melukai perasaan anak.

·         Jangan banyak menginterupsi ketika anak bicara, hal itu akan membuat anak merasa tidak nyaman. Dengarkan dulu apa yang ingin disampaikan anak.

·         Jangan banyak mengkritik terhadap apa yang disampaikan anak.

·         Minimalisir penggunaan gadget dan alat elektronik lain saat berkomunikasi agar bisa melakukan kontak mata dengan anak.

Artikel ini disadur dari majalah anakku 

kembali ke atas