Perihal Kotoran Bayi

Oleh: dr. Ika Fitriana, Sp.PD

Tahukah Anda, kotoran bayi dapat memberikan sejumlah informasi? Pola dan tekstur feses, bau, warna, semua ini memiliki arti yang bisa menjadi petunjuk bagi orangtua.

Bayi telah belajar mencerna sejak dalam kandungan. Ia sudah mulai “belajar” buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) dalam rahim ibunya, yang disebut mekonium. 

Mekonium berisi sisa pencernaan selama dalam kandungan, biasanya berlangsung 1-3 hari, dengan tekstur, warna, dan konsistensi yang khas. Setelah bayi mendapat ASI, tekstur dan warna ‘pup’ akan berubah, begitu pula jika anak minum susu formula dan diberi makanan padat.

Mengenali feses yang normal dapat mengurangi kekhawatiran orangtua. Yuk, kita lihat gambarannya:

BAB seperti dempul: Feses kekurangan bilirubin sehingga warnanya pucat. Zat bilirubin inilah yang membuat warna feses menjadi kuning, bila kekurangan, warna feses menjadi pucat seperti dempul. Artinya, ada suatu penyakit yang menyebabkan bilirubin bayi tidak masuk ke dalam usus hingga tak dapat mewarnai feses.

BAB seperti aspal: Kemungkinan terdapat perdarahan saluran cerna bagian atas. Warna hitam bersumber dari hematin yaitu hasil metabolisme heme yang ada dalam sel darah merah dengan asam lambung menghasilkan warna hitam.

BAB dengan darah segar: Darah segar berupa garis pada feses bayi Anda apalagi setelah bayi kesulitan mengedan (feses keras) dapat menjadi pertanda luka di sekitar anus. Hal ini paling sering menjadi penyebab pup bayi yang berdarah.

Diare

Diare perlu dicurigai bila BAB lebih sering dari biasanya, terkadang tinja mengandung lendir atau darah, bisa berbau asam atau busuk, bisa disertai sakit perut atau tidak. Jumlahnya bisa sedikit-sedikit atau pun banyak sekali sehingga anak kekurangan cairan. Gejala lain yang menyertai biasanya adalah demam dan muntah. Pada bayi baru lahir yang sering pup, hal ini agak sulit dibedakan. Ibu bisa mengamati tekstur yang lebih cair dari biasanya, atau bila bayi telah memiliki pola pup sendiri, ia pup lebih sering dari pola biasanya.

Konstipasi

Konstipasi perlu dibedakan baik pada bayi atau pun anak. Pup bayi tidaklah seperti anak yang sudah mengonsumsi makanan padat karena bayi lebih sering pup ataupun terlambat pup, apalagi pada bayi ASI. Definisi konstipasi pada bayi kecil lebih didefinisikan pada tinja yang keras, besar, atau sebaliknya kecil-kecil seperti pelet yang sulit dikeluarkan dan bukan pada jarangnya frekuensi pup. Bahkan ada bayi yang pup hanya satu kali seminggu tanpa tinja yang keras atau sulit dikeluarkan. Semua ini disebabkan ASI yang mampu diserap hampir sempurna.

Sedangkan bayi yang sudah makan makanan padat sebaiknya memiliki pola pup yang teratur sehingga bila frekuensi pup jarang apalagi disertai tinja yang keras, anak sudah dapat dicurigai mengalami konstipasi

Jadi, saat sedang mengganti popok bayi Anda, perhatikannlah pupnya karena hal ini dapat menjadi indikator kesehatan saluran cernanya.

Artikel ini disadur dari majalah Anakku

kembali ke atas